Sabtu, 16 April 2011

Ibu Perkasa

Sebut saja ibu Ami seorang wanita biasa yang pekerjaannya sebagai seorang guru SD di sebuah desa... hidup bersama tiga orang anak yang ia besarkan seorang diri dengan segala kasihnya. anak yang pertama bernama Aan (16 th), Yoyo (10th),dan terakhir kaka (8th). Sekitar 10 tahun silam ia memutuskan bercerai dengan suaminya, bukan karena ia tidak lagi mencintai suaminya, tetapi lebih dikarenakan suaminya mengkhianati kasih tulusnya. Tidak hanya itu, sebelum ia memutuskan perceraian itu, tepatnya malam hari sewaktu ketiga anaknya telah tidur sedangkan bu Ami dan suaminya panggil saja pak Pram sedang menonton sinetron Tersanjung, entah kerasukan roh jahat apa yang merasuki pikiran pak Pram, tiba-tiba ia memegang leher bu Ami dan menyudutkannya ke tembok. Seketika bu Ami shock dan langsung meronta-ronta berusaha melepaskan tangan pak Pram dari lehernya, karena kesulitan, bu Ami mendekati pintu yang kebetulan atau berkat Tuhan tidak terkunci lalu ia berusaha keluar dan berteriak-teriak meminta tolong, berharap ada tetangga yang mendengar dan menyelamatkannya. Saat ia sampai dihalaman rumahnya yang kecil dia disambut oleh dua tetangganya yang mendengar teriakannya mereka adalah pak Pon dan bu Seepy. mereka langsung menghampiri bu Ami yang ternyata di belakangnya ada pak Pram, tanpa rasa malu dengan kedua tetangga nya Pak Pram masih bertekat menyiksa bu Ami, Ia menendang dan memukul bu Ami tanpa ampun. melihat hal itu bu Seepy dan Pak Pon tidak tinggal diam, mereka langsung memegang tangan pak Pram . "Pak Pram, apakah anda sudah gila memukul istri seperti ini?" kata bu Seepy sambil menangis. tetapi Pak Pram diam tanpa menggubris. Akhirnya entah karena malu atau roh jahat telah pergi dari dirinya, tiba-tiba ia terdiam terpaku di sudut pagar halaman. Bu Ami terus menangis, matanya sebelah kanan bengkak merah bahkan tertutup darah karena terkena tonjokan, ia memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya dengan diantar bu Seepy, waktu itu banyak tetangga yang menyaksikan kejadian.

pagi harinya, ketiga anaknya menyusul bu Ami kerumah kakek-neneknya, "bu, kenapa mata ibu seperti itu, apa yang telah di perbuat ayah pada ibu? kenapa beliau tega, bu ? apa ayah udah nggak sayang lagi sama kita?" bu Ami tidak kuat menahan air matanya ia menangis saat melihat ketiga anak nya, terlebih saat kaka anak terkecilnya menanyakan hal itu. mulai saat itu ia memutuskan perceraian dengan suaminya.

Tapi semua itu sudah berakhir kini, sudah sepuluh tahun masa kelam itu berlalu, menjadi kan kekuatan besar bagi keluarga ini. Sekarang Aan anak pertamanya sudah bekerja menjadi seorang jurnalis, anak keduanya yoyo kuliah di sebuah universutas negeri di kotanya Surakarta dan anak terakhirnya sekolah di Sma negeri. semua anak nya dapat bersekolah sampai jenjang tinggi yang mungkin tidak dapat orang lain bayangkan dapat terjadi. Selama Bu Ami menghidupi keluarganya ia hanya bekerja sebagai seorang guru dengan gaji pas-pasan, tapi ia dengan semangat selalu mengatakan" anak ku mungkin kits tak punya sesuatu, tapi kamu tak usah khawatir kamu cukup belajar dengan baik, dan ibu akan selalu berusaha untuk kalian" . dengan semangat itu bu Ami selalu berjuang, meminjam uang sana sini demi sekolah anak-anak nya, semua ini terbayar lunas bagi nya dengan kondisi anak-anaknya saat ini. "bu, kaka, sangat bersyukur punya orang tua seperti ibu, mungkin ibu bukan orang kaya seperti ibunya teman -teman kaka lainnya,dan meski ibu seorang diri tanpa ayah,  percayalah bu, ibu adalah orang tua paling perkasa yang tanpa telah berjuang untuk kami". kaka memeluk ibunya dengan manja membuat mata bu Ami berkaca-kaca melihat anaknya yang dulu masih sering nangis tumbuh menjadi gadis dewasa.. " bu, sebagai anak tertua Aan juga mau berterimakasih sama kebaikan ibu. aku sayang ibu.. maafkan aku bu selama ini merepotkan ibu"  kata-kata anak pertamanya semakin membuat hati bu Ami terasa haru. "bu, yoyo bingung mau bilang apalagi sama ibu, kata-kata ku semua dah di pakai kak Aan sama dek kaka, tapi yang pasti ibu itu malaikat kami yang akan selalu ada untuk kami, aku sayang sama ibu", akhirnya tak kuasa bu Ami meneteskan air mata bahagianya ia sangat bangga pada anak-anak nya. "anak-anak ku kalian adalah terang bagi ibu, saat ibu merasa lemah dan tidak bertenaga untuk melanjutkan hidup, ibu akan kembali bersemangat saat melihat kalian, keceriaan kalian adalah nyawa bagi ibu, bagaikan seteguk air di padang pasir, ibu cinta selamanya pada kalian, ibu bangga perjuangan ibu selama ini tidak sia-sia" 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar